Editorial – Babak Baru Persepakbolaan Nasional

26 November 2010 | 2:11 am | dibaca 4,497 kali kali

Editorial Ongisnade terkait babak baru di persepakbolaan nasional. Pro dan kontra di wajah PSSI, hingga peran suporter yang jadi aset terbesar di persepakbolaan kita.

Belakangan ini, publik sepakbola nasional dibuat geger oleh Liga Primer Indonesia (LPI). Sebuah kompetisi yang digagas Arifin Panigoro dan diklaim lebih profesional ketimbang liga yang sudah ada. Kontan saja pro dan kontra menyeruak di masyarakat, baik pemerhati sepakbola maupun masyarakat awam. Berikut editorial Ongisnade terkait babak baru di persepakbolaan nasional tersebut.

Suporter, aset terbesar sepakbola nasional. (Foto: Ongisnade)

Terpuruknya prestasi sepakbola Indonesia bisa jadi adalah momentum yang memicu terjadinya babak baru di persepakbolaan nasional. PSSI yang menjadi otoritas tertinggi, nampaknya belum bisa berbuat banyak. Mandegnya prestasi dan persoalan klub yang berkompetisi memakai APBD atau kerap kali disebut ‘menyusu’ uang rakyat tentu menjadi penyebabnya.

Bisa disebutkan jika sepakbola Indonesia masih terlalu banyak menyajikan kontroversi ketimbang prestasi. Sebuah kondisi yang menurut Menegpora, Dr. Andi Alifian Mallarangeng adalah keterpurukan yang memerlukan perubahan.

“Tanpa pembenahan menyeluruh, masa depan sepakbola Indonesia akan semakin hancur dan masyarakat akan semakin mempertanyakan kapan prestasi yang membanggakan dapat diraih.”

(Menegpora, BUKU PUTIH REFORMASI SEPAKBOLA INDONESIA, red.)

Jika menilik kata ‘perubahan’, maka sudah sepantasnya berubah ke arah lebih baik, dengan cara meninjau sistem di negara-negara yang sudah maju persepakbolaannya. Di level Asia, Jepang pada 1985 telah membuat program 100 tahun reformasi sepakbola. Kini JFA (Asosiasi Sepakbola Jepang) telah berhasil membuat J-League memiliki nilai komersial tertinggi di Asia.

Australia juga membuktikan bahwa keterpurukan bisa diatasi. Setelah menyadari kekacauan pengelolaan sepakbolanya, di tahun 2003 ‘Negeri Kanguru’ itu melakukan reformasi dan kini A-league di Australia adalah kompetisi dengan nilai komersial tertinggi kedua di Asia.

Sebenarnya jika berkaca pada sejarah, keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia juga pernah menerpa daratan Inggris. Di akhir tahun 80an sepakbola di negeri Margareth Tacher kocar-kacir. Stasion sepi, suporter mengeluhkan fasilitas yang minim, hooliganism jadi budaya dan yang paling parah, klub Inggris dilarang bermain di semua kompetisi Eropa akibat tragedi Heysel(1985). The Football League First Division yang notabene adalah kompetisi tertinggi di Inggris sejak 1888 tertinggal kualitasnya dari Serie A Italia dan La Liga Spanyol. Ironis.

Namun, mereka berbenah, stadion disulap menjadi all-seater, hooliganisme diperangi dengan industrialisasi dan komersialisasi sepakbola yang menguntungkan, baik untuk klub maupun suporter, pada akhirnya pemasukan dari sponsor melejit sejak hak siar jadi komoditas yang menguntungkan. Dan yang revolusioner, klub-klub papan atas berinisiatif untuk membentuk sebuah liga mandiri yang memicu investasi besar-besaran ke ranah sepakbola.

Mudahnya begini, tim-tim yang selama ini berkompetisi dibawah naungan FA (PSSI-nya Inggris, red) membentuk sebuah liga yang share kepemilikannya ada di setiap klub tersebut, bukan berada di monopoli FA. Dan tentunya mereka berhak mengatur ‘dapur’ mereka sendiri.

Setiap klub berhak menjual hak siar sesuai standar mereka. Pada saat itu klub-klub tersebut menggunakan alasan bahwa mengikuti kompetisi di Eropa perlu dana besar dan solusinya adalah hak kepemilikan saham kompetisi dan hak siar. Hasilnya, Inggris sukses mencapai semi-final 1990 FIFA World Cup, dan Manchester United merengkuh trophy Winner Cup setahun kemudian.

Kembali ke problema sepakbola nasional, rasa-rasanya kemandirian adalah kuncinya. Saat klub memiliki sumber dana yang sustainable, maka prestasipun bisa dikejar. Tidak hanya mandiri, namun juga profesional. Karena tanpa profesionalisme, proses meraih prestasi akan terganggu oleh etos kerja yang setengah-setengah.

Pro dan kontra sudah pasti mengiringi, berpulang kepada niat dan hati nurani, jika ingin berbenah maka pembenahan total hukumnya wajib. Berbagai elemen seharusnya berpartisipasi, pemerintah, PSSI, investor, media dan suporter seyogyanya bersinergi mencari formula yang tepat.

Mengutip pidato pembukaan Kongres Sepakbola Nasional oleh Presiden SBY,

“Kita ingin sepakbola Indonesia bangkit dan jaya kembali di Asia dan dunia. Kalau begitu hebatnya semangat generasi muda kita, kalau begitu hebatnya semangat suporter kita, tidak lama lagi Indonesia akan kembali bangkit menjadi pemain yang handal di tingkat dunia.”

Merupakan sebuah fakta bahwa animo suporter di Indonesia yang begitu tinggi adalah aset yang masih harus di-maintain, dan suporter bukanlah hanya sebagai floating mass yang ditarik kesana-kemari demi kepentingan politis.

(onn/bar)

Komentar:

Radione sik loading ker...

Subscribe to Ongisnade

Recommend this on Google

Arematainment

Presenter Cantik Ini Idolakan Arema

Bagi para penikmat tayangan Indonesia Super League (ISL), mungkin belakangan mulai akrab dengan sosok Alice Callista. Ya, wanita berparas cantik
Baca selengkapnya

Ongisnadestore.com
Ongisnade.co.id




kritik dan saran