Awalan Bernama Malaysia

3 December 2010 | 2:37 pm | dibaca 3,552 kali kali

“Kita ini rindu banget liat tim nasionalnya menang, liat tuh, rame banget kan? Udah lama Stadion kayak gini,” ujar ayah saya saat kami berduaan melangkah memasuki Stadion Utama Senayan (saya masih lebih suka menggunakan kata ini ketimbang GBK yang bagi saya lebih mirip penyebutan Aula Olahraga).

Ekspresi Gonzalez setelah melesakkan gol ke gawang Malaysia. (Foto: AFF)

Hari itu seingat saya di sekitar tahun 1994, untuk pertama kalinya remaja-remaja Indonesia yang (waktu itu) nyaris setahun sudah digembleng di kompetisi junior Liga Italia kembali ke tanah air. Anak-anak muda usia belasan yang diantaranya adalah Kurniawan Dwi Julianto dan Bima Sakti itu adalah magnet utama bagi publik Sepakbola Indonesia saat itu.

Terkenang di benak saya, saat berita mereka dikirim ke Eropa hampir setahun sebelumnya dirilis, sangat besar harapan bangsa ini dan juga saya di pundak remaja-remaja itu. Serie A di Italia, klub bernama Sampdoria yang saat itu mulai diperkuat oleh Attilio Lombardo dan Ruud Gullit serta bintang baru Gianluca Pagliuca.

Siapa yang tak terkesan oleh nama besar liga yang tengah rutin berkibar di tv swasta nasional saat itu. Tak juga saya, yang di masa-masa itu sangat menikmati aksi Maradona, Paolo Maldini sampai trio Belanda di AC Milan.

Sebesar itulah harapan saya dan ribuan orang yang tumplek ke Senayan, sulit saya gambarkan ukuran kebesaran itu. Pastinya tak hanya kami, berjuta rakyat Indonesia yang menanti aksi mereka di televisipun memiliki harapan yang saya yakini sama besarnya dengan saya dan ribuan rekan sebangsa lainnya di dalam Stadion.

Masih kuat di benak saya, saat 3 tahun sebelumnya di tahun 1991 saya dan teman-teman saya bersorak gembira karena tim nasional kita berhasil merebut medali emas SEA Games 1991.

Saat kami bersorak di Stadion yang sama saat Ribut Waidi mencetak gol kemenangan yang mengantar negeri kita meraih emas ajang yang sama di tahun 1997, atau saat Ricky Yacob dengan gol indahnya ke gawang Uni Emirat Arab yang meloloskan kita ke semifinal Asian Games 1986 (yang terakhir bagi cabang Sepakbola).

Harapan yang lebih besar dari sekedar Asia Tenggara lah yang kami harapkan dari remaja-remaja yang datang dari kota Genoa itu. Bukan kemudian kekalahan 0-4 dari Suriah lawan yang di partai pertama sore itu saya saksikan mampu terus menekan tim yang disebut sebagai Tim Primavera oleh media kita. Kekalahan telak yang kemudian mengundang makian, cemoohan, lemparan benda-benda ke dalam lapangan sampai tuduhan curi umur pada tim Suriah.

Saya masih teringat tangisan seorang bapak yang duduk di sebelah saya saat Irak juga mengandaskan kita sekaligus memastikan kegagalan untuk lolos ke semifinal yang artinya gagal juga lolos ke putaran final Piala Asia Junior 1995.

Matikah Sepakbola kita? Tentu tidak, justru di tahun yang sama kita melahirkan Liga Indonesia dengan partisipan terbanyak di dunia, tim nasional yang untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa kita ke Piala Asia di Kuwait 1996.

Kegagalan adalah hantu yang menakutkan bagi Sepakbola kita, tapi bagi saya…lolos ke Piala Asia saat itu adalah prestasi luar biasa. Perlawanan luar biasa, dua gol indah dari Roni Wabia dan Widodo C Putro adalah hal yang mampu membuat saya bangga (gol Widodo adalah Sports Moment of The Day versi CNN saat itu, menyingkirkan slamdunk Michael Jordan ke no 2 dan teriakan Andre Agassi ke no 3).

Sejak 1994 itu, saya nyaris tidak melewatkan setiap partai tim nasional di negeri ini, terutama jika ia adalah pertandingan resmi. Saya lebih sering melihat wajah-wajah kecewa dan sedih saat peluit panjang dibunyikan ketimbang wajah gembira yang bisa saya hitung dengan jari.

Semalam, saya lihat senyum itu mengembang dengan baik. Kita menang telak atas Malaysia 5-1 lewat sebuah aksi yang sebenarnya jauh dari sempurna, namun cukup untuk menumbangkan lawan yang tidak istimewa itu. Saya menemukan wajah-wajah gembira persis seperti saat kita memukul Bahrain 2-1 di tempat yang sama 3 tahun lalu atau 9-0 atas Maladewa 13 tahun lalu.

Wajah yang mendadak percaya pada tim nasional kita yang “Bisa juga kita menang ya?” ujar suara-suara itu sembari menantikan bus yang membawa pemain hanya untuk mengelu-elukan nama para pemain yang memang harus kita puja itu.

Semalam, saya melihat banyak orang merasa bahwa kita hanya bertarung di satu pertandingan saja dan lalu menang. Kita lupa bahwa turnamen baru dimulai dan 2 lawan yang lebih kuat dari sekedar Malaysia sudah menanti.

Tim nasional memang belum pernah lagi menghadirkan gelar sejak 1991, tapi apa benar kita tak pernah menang? Lupakah kalian pada kemenangan-kemenangan meyakinkan di Senayan pada AFF 2003 di babak penyisihan?

Kemenangan demi kemenangan yang meloloskan kita ke Piala Asia 2004…dan tentu saja kemenangan spektakuler atas di Piala Asia Beijing 2004 atas Qatar yang saat itu baru saja merilis Liga Profesional dengan Gabriel Batistuta dan Stefan Effenberf sebagai role modelnya.

Kemenangan yang sangat membanggakan, karena dilakukan di negeri orang dan membuat Philippe Troussier The White Witch Doctor harus dipecat dari kursi tim nasional Qatar bahkan saat pertandingan dengan skor akhir 2-1 itu masih terus berlangsung.

Kita memang belum lagi pernah jadi juara, tapi kita pernah menang dan kita pernah menang dari tim yang jauh lebih kuat dari sekedar Malaysia yang liganya saja sedang tidak beres saat ini.

Ditulis oleh Andibachtiar Yusuf, seorang Filmaker & Football Reverend. Find @andibachtiar on twitter.

Comments Closed

Radione sik loading ker...

Subscribe to Ongisnade

Recommend this on Google

Arematainment

Presenter Cantik Ini Idolakan Arema

Bagi para penikmat tayangan Indonesia Super League (ISL), mungkin belakangan mulai akrab dengan sosok Alice Callista. Ya, wanita berparas cantik
Baca selengkapnya

Ongisnadestore.com
Ongisnade.co.id




kritik dan saran